Minggu, 15 Maret 2015

Review Novel Bulan Tere Liye

Apa kegiatan week endmu? Saya selalu melakukan kegiatan yang saya sukai saat weekend. Apa itu? Membaca buku. Di perpustakaaan sekolah saya meminjam buku Sun Bang Yan Gie, roman klasik Tiongkok. Tetapi, sepanjang perjalanan dari sekolah sampai kost buku itu sudah terlewat seratusan halaman. Benar saja, jam 18.45, sudah selesai. Sempat terpikir mau menuliskan review buku ini, namun nanti dulu ya.
Saya ingin menceritakan bukunya Tere Liye, 2 minggu lalu saya membaca Sunset Bersama Rosie. Buku itu dipinjamkan seorang teman, yang suka sekali karya-karya Tere Liye. Saya menikmatinya, tapi, juga bukan buku ini yang mau saya ceritakan.
Lalu, yang mana? Ini yang saya baca sepanjang jalan dari Grogol sampai halte transjakarta Bermis, dari jam 9 pagi sampai jam 10.40. Kok sampai menit-menitnya? Iya, sebab saya mulai membaca sejak masuk halte Grogol sampai di halte Bermis, dan nunggu teman dengan asyik, tanpa protes karena ada buku ini. Buku apa? Sabar dong.
Buku ini mengisahkan tentang petualangan 4 anak mengikuti kompetisi festival menemukan bunga matahari pertama. Bunga yang mekar paling pertama di seluruh negeri matahari, dicari mengelilingi negeri. Ada 9 tim dari negeri matahari, dari 9 fraksi penguasa yang mengikuti kompetisi ini, namun, 4 anak ini, ternyata diikutkan kompetisi ini seperti Harry Potter dan Piala Api, sehingga menjadi kontingen ke 10.
Sudah penasaran? Oke, pastinya sudah dari tadi ya? Cuma saya masih mau cerita sedikit lagi. Jadi ke empat anak ini dari negeri Bumi, dugaan saya Bang Tere memplot mereka ini sekolah di Indonesia ya? Soalnya saya membaca di hal 334 beberapa hal, terkait kurikulum SD, seperti tematik indahnya berbagi, dan bahwa kurikulum ini dibatalkanpun ada. Saya jadi menebak-nebak, kira-kira bagian akhir novel ini selesai setelah pengumuman pembatalan kurikulum itu, Januari 2015? Atau Desember 2014?
Novel ini sendiri, diterbitkan dan baru beredar tepatnya saat Islamic Book Fair, 2 pekan lalu. Maret 2015. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, menurut saya bisa dikategorikan cerita fiksi fantasi. 400 halamannya, memikat.
Sebenarnya secara tidak langsung, Bang Tere mempromosikan belajar yang berkelanjutan, dengan banyak nasihat-nasihat terselip pada kalimat-kalimat percakapan di antara tokoh-tokoh cerita. Well, walaupun menurut saya, sampai saat ini paling top tulisan Bang Tere adalah novel Rindu, dan Hafalan Ayat Shalat Delisa, namun novel ini digarap dengan menarik. Pengaturan alur ceritanya terasa mengalir dan well, bisa dinikmati. Percakapan tokoh dan narasi setting juga tidak membosankan.
Sudahlah, mendingan beli deh buku ini,... kalau kepengen tahu, isi lengkapnya. Walaupun saya ngga beli tapi dapat minjam. Hehehehehehe.

2 komentar:

  1. Itu lanjutan Bumi ya bu? Oh ya berkat posting tentang novel Rindu, saya jadi beli deh he he he

    BalasHapus
  2. Iya bu. Nanti 2016 ada yang Matahari,... Novel Rindunya benar2 memuaskan bukan? Hehehehehe.

    BalasHapus

Tips Hidup Maksimal

Mendengar suara Tuhan adalah kunci hidup orang percaya menjadi maksimal. Sayangnya seringkali, kita merasa Tuhan tidak berbicara pada kita. ...