Tampilkan postingan dengan label kelasku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kelasku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2016

Lagi lagi air mata

Pagi ini saya kembali menemukan siswa yang menangis. Akhhhhhhh... Kalau siswa menangis itu harus diselesaikan. Masalahnya, siswanya ini nangisnya sesengukan. Susahlah mau mendengar masalahnya.
Akhirnya setelah 7-8 menit, ia tenang juga dan bisa cerita.
Rupanya, ia baper. Jadi, hari itu kelasnya mendapat kesempatan menyanyi saat assembly. Karena datang terlambat, ia tidak bisa ikut menyanyi.
Seorang temannya menuduh dia sengaja datang terlambat supaya tidak perlu tampil dan seorang lainnya mengomeli dia juga.
Ealah. Baper toh.
Ya sudah saya suruh mereka minta maaf.
Peristiwa siswa menangis, hampir selalu di setiap level kelas. Memang di SD, posisi guru bukan hanya pengajar. Guru adalah orang tua yang senyata nyatanya dalam kelas. Kadang harus menghibur, membimbing, mengingatkan, memarahi, semua karena cinta.
Setelah lama berlalu anak akan lupa kenapa menangis. Tapi anak ingat gurunya peduli.
Hmmmm Selamat Pagi ya.

Kamis, 22 September 2016

Ide Pemberian Sanksi bagi Siswa

Pagi-pagi hari ini t-shirt saya sudah basah. Lagi lagi ada siswa yang berlinang air mata. Saya langsung stress. Lho kok?
Iya, sebab sekarang ini saya bertanggung jawab sebagai wali kelas 7. Ini sudah remaja dan harusnya acara berlinang air mata itu sudah lewat masanya. Selidik punya selidik, saya menemukan siswa saya ini tengah bersedih karena hal yang sama dengan siswa saya 2 tahun lalu di kelas 5. Nilainya jelek.
Lha?
Rupanya guru pengajar memberikan syarat agar siswa menyalin soal dan jawabannya sebanyak 10 kali, kalau mau nilainya KKM. Sekarang saya yang termenung. Masalahnya, apa manfaatnya sanksi seperti ini?
Di tempat les, saya juga menemukan anak didik saya diberi sanksi yang sama jika nilainya di bawah KKM. Bahkan disuruh menyalin 15-20 kali.
Anak les saya sih memang boleh saya bilang cuek dan tak pedulian. Diberi sanksi ya dikerjakan, atau diabaikan.
Saya yang jadi stress. Memang bermanfaatkah sanksi semacam itu di kelas 5-7? Di mana anak didik sudah jelang puber, dengan sifat "baper"?
Idealnya guru berusaha mengenali siswanya dan menemukan cara membelajarkan siswa. Beberapa siswa bereaksi negatif dengan sanksi tersebut. Mereka mengabaikan, atau menyelesaikan secara asal asalan, ataupun jadi stress, seperti siswa saya yang menangis tersebut.
Menyimak kasus guru yang dikriminalisasi, apakah bukan saatnya setiap guru introspeksi diri dan meng up to date ilmu agar bisa membuat siswa belajar menjadi baik?
Saya sebagai pengajar math, yang selalu divonis pelajaran susah saja, berupaya membuat pelajaran saya menyenangkan. Saya sadar Math hanya bisa dikuasai dengan latihan dan latihan itu membosankan, maka saya memberi anak ruang bergerak saat mengajar. Caranya, gantian maju ke papan tulis mengerjakan latihan. Kadang, sebelum belajar saya ajak berolah gerak sejenak.
Sanksi kreatif apa yang bisa membuat siswa bekerja keras dalam test yang kita buat?
1. Menuliskan kesalahan dalam test. Alasan kenapa kesalahan terjadi. Misal: dalam pelajaran Rasio, test nilai kurang dari KKM, anak perlu tahu di mana kesalahannya. Apakah kurang teliti menghitung, kurang teliti membaca soal, atau karena tidak memahami bahasa soal. Minta siswa merencanakan apa yang akan dilakukan supaya dalam test berikutnya mereka bisa.
2. Berikan ekstra kelas dan perbaikan sampai mereka mencapai nilai KKM. Harus. Karena anak berhak atas remedial/perbaikan. Ekstra kelas sebenarnya sanksi karena anak harus pulang terlambat untuk mengejar ketinggalan. Namun memang guru lebih repot, karenanya. 
Perlu diingat bahwa test adalah cerminan usaha mengajar guru. Jika siswa nilainya jelek, jangan jangan kita tidak bisa mengajar.
Ada pendapat lain? Atau ide jitu lain? Yuk berbagi.

Minggu, 24 April 2016

Field trip

Entah sudah berapa tahun membawa anak anak Fieldtrip. Semenjak mengajar di SD yang saya ingat. Membawa anak anak field trip dari sekolah memiliki keuntungan buat saya secara pribadi. Saya bukan tukang jalan. Jadi, kalau ngga bersama anak anak, so pasti saya tidak akan tahu tempat tempat yang bagus.

Namun demikian ada beberapa hal yang perlu dipikirkan saat membawa anak anak Fieldtrip.
1. Saya membawa anak anak orang. Menjaga keselamatan dan memberikan reportasi hasil belajar anak dari field trip menjadi penting. Saya membiasakan diri melihat momen menarik anak anak mempelajari dan beraktivitas. Saya juga menjaga jangan sampai ada yang tergores karena namanya anak anak kadang suka lari larian. Anak yang tergores di bawah pengawasan saya akan merusak reputasi saya. Apalagi sampai anak hilang. Itu sebabnya, kadang saya bela-belain mengunjungi lokasi fieldtrip diam diam agar bisa mencocokkan informasi dari panitia dan keadaan sesungguhnya.
2. Menjaga anak anak untuk menunjukkan sikap yang baik. Membimbing anak tidak berperilaku seenaknya di tempat umum adalah bagian dari pembelajaran. Bayangkan, jika anak tidak belajar antri, lalu menyerobot antrian. Memalukan bukan. Belum lagi melatih mereka agar tidak berlarian atau memanjat manjat. Namanya anak anak. Di samping soal nama sekolah yang dibawa kala fieldtrip, itu juga soal keselamatan anak. Kalau anak jatuh karena lari2 atau memanjat manjat kan berabe saya.
3. Saya mengingatkan anak bahwa fieldtrip adalah kegiatan belajar. Jadi, kalau tidak ikut fieldtrip bisa membuat mereka kehilangan nilai. Saya juga meminta mereka mandiri. Tidak usah ditemani orang tua. Bukannya belajar di sekolah jika tidak ditemani orang tua?

Walaupun saya menarik keuntungan bisa tahu tempat tempat bagus, tapi saya tidak akan membuat anak anak saya mengalami hal yang buruk karena sibuk sendiri.
Saya memilih kesempatan lain mengunjungi lokasi tersebut jika memang saya tertarik.
Selamat fieldtrip ya...
Salam

Sabtu, 19 Maret 2016

Anak dan reward

"Ms. Maria, kok yang dapat kupon itu itu terus sih?"
Demikian protes salah satu siswa saya. Well, anak anak sekarang sedang seru-serunya mengumpulkan kupon kebersihan dan kerapihan diri dalam rangka hari bumi. Segitu serunya dengan kupon itu sampai reward saya yang biasanya dikejar jadi berubah maunya kupon.
Reward saya adalah stiker smiling face. Biasanya saya memberikan smiling face untuk sikap dan juga untuk hasil ulangan atau partisipasi di kelas.
Kupon yang saya punya saya beri tanggal. Karena setiap guru hanya mendapat 25 kupon sesuai hari pengumpulan. Selama hari pengumpulan kupon dan diharapkan juga sesudahnya anak anak dapat menjaga kerapihan dan kebersihan diri dan lingkungannya di sekolah.
Bicara soal bersih, memang sih kebanyakan anak perempuan yang lebih rapih dan bersih. Tapi ada juga anak laki laki yang bisa rapi dan bersih.
Kupon ini yang jadi bahan percakapan juga oleh orang tua murid saat mengambil raport mid.
Lucunya karena anak anak ini sebenarnya orang tuanya mau saja membelikan hadiah yang bisa ditukar kupon-kupon itu. Masalahnya buat anak anak hadiah dari guru atau sekolah itu pencapaian yang nilainya beda dengan dibelikan orang tua.
Ini mengingatkan saya pada anak anak yang saya ajar tahun sebelumnya. Bagaimana anak anak itu berupaya dapat nilai 100 dalam ulangan saya sekedar untuk ditraktir bakso ms. Maria nya. Hahahaha... Lucu. Mereka juga ngga segan membujuk orang tuanya mengizinkan mereka mengunjungi museum tekstil sebagai reward nilai 100nya. Padahal, orang tua mereka bisa banget buat membawa mereka ke sana.
Kembali pada kupon kupon itu,
Well, reward dari guru memanglah spesial. Sampai di kelas kelas tertentu.

Selasa, 08 Maret 2016

It's Embarassing

"Ms. Maria, it's embarassing for us that we got lower merit than primary one".
Itu adalah kalimat siswa saya saat upacara bendera kemarin. Jujur saya surprise waktu siswa saya berkata demikian. Beberapa waktu  sebelum itu saya sudah mengingatkan kelas saya untuk lebih  serius saat belajar dan mengurangi main di kelas.
Namanya anak kelas 3, ya memang mereka lagi senang senangnya ngobrol dan bersosialisasi sampai sampai kadang lupa bahwa mereka sedang dalam jam pelajaran.
Mereka kadang juga lupa pelajaran tertentu mengharuskan mereka menggunakan bahasa Inggris. Mereka berbicara dalam dialek daerah yang membuat guru pengajar memberikan demerit yang mengurangi merit yang dikumpulkan.
Awal awal saya mengingatkan, sambutan kelas saya adalah mengabaikan. Buat apa merit? Tidak ada hadiahnya. Kata mereka.
Saya menangkap kesempatan mendiskusikan komentar tersebut segera. Sebelum dilupakan.
Memang rewardnya bukan barang. Tapi kebanggaan disebut sebagai kelas dengan merit terbanyak atau paling kurang lebih banyak dari merit kelas di bawahnya bukan?
Menanamkan perilaku yang baik butuh banyak waktu bersama anak anak ini.
Dalam diskusi ini anak anak sempat mengeluhkan bahwa ada guru yang lupa memberikan merit. Saya menegaskan agar mereka tidak khawatir, asal tidak mendapatkan demerit maka mereka bisa menganggap guru yang tidak memberi merit sebagai merit.
Senangnya hati saya saat anak anak saya punya rasa malu dan menghargai reward yang diberikan.

Jumat, 18 September 2015

Mendidik tugas siapa?

Kabut asap yang terjadi di Jambi beberapa minggu ini sangat merepotkan. Sisi guru dalam diri saya keberatan dengan libur yang diharuskan oleh dinas dan pemko. Bagaimanapun buat saya libur tidaklah menjadi solusi.
Benar juga. Dalam media cetak Jambi Independen disebutkan bahwa libur karena asap tidak efektif. Anak-anak malah bermain keluar. Padahal udara sudah beracun dan berbahaya dihirup. Akibatnya anak-anak tetap sakit.
Orang tua tertentu memilih dan mengharapkan sekolah tetap masuk, karena di sekolah kami, gedung tertutup dan aktivitas bisa dilakukan di dalam ruangan. Sebaliknya sejumlah guru gembira saat diliburkan. Maklum, ketika sebagian besar sekolah meliburkan anak, guru-guru dapat mengerjakan administrasi dan persiapan seperti lembar kerja dan pekerjaan rumah, Namun sekolah di mana saya aktif memilih tetap meliburkan guru. Alasan yang diberikan adalah untuk menjaga kesehatan guru.
Beberapa orang tua yang concern dengan kesehatan akhirnya membawa anaknya ke kota lain. Jakarta atau Bangka. Itu adalah dua nama kota yang sempat saya dengar jadi tujuan. Setidaknya anak anak tidak menghirup udara beracun.
Edaran yang diterima sekolah menyebutkan bahwa siswa diliburkan selama indeks pencemaran udara di atas 300, dengan catatan diberikan tugas belajar mandiri.
Untuk tingkat SMP dan SMA mungkin bisa. SD? Saya meragukannya. Pada tingkat dasar, terutama kelas kecil 1-3, anak tergantung pada orang dewasa di sekitarnya.
Saat orang dewasa di sekitarnya tidak mau terlibat, atau kesulitan bersikap tegas, maka sulit berharap belajar dilakukan saat libur.
Namun sekolah bukan penitipan anak. Sekolah berada dalam aturan pemerintah juga. Bila disuruh libur tidak libur, saya dengar ada sanksi yang diberikan. Haduh.
Jadi saya berpikir, sebenarnya pendidikan itu hanya tanggung jawab sekolahkah? atau merupakan sinergi?
Apabila mendidik adalah sebuah sinergi memnagun generasi, maka orang tua harus ambil bagian dan bersikap tegas pada anak-anaknya.
Melarang anak bermain di luar saat kabut asap bisa dilakukan asal orang tua mau menyediakan bacaan, atau kegiatan dalam ruang yang menarik, (asal bukan games digital ya)seperti catur, atau ular tangga, bermain peran, dan sebagainya. Ini juga memperkaya kebahasaan anak saat kembali ke sekolah.
Orang tua bisa mendorong anak menarasikan bacaannya, untuk membantu anak memahami soal cerita di sekolah dengan gambar. Mendampingi anak merupakan bagian dari mendidik. Jika orang tua bisa menunggui anak di sekolah, harusnya bisalah membantu anak belajar di rumah dan melarang mereka main di luar karena asap.
Jadi,

Hayo,... mendidik tugasnya siapa? Sekolah?

Salam edukasi dari kota yang sedang keasapan, Jambi


Maria


Kamis, 26 Februari 2015

Chaos-nya Ruang Kelas/Rumah

"Mar, aku perlu modul pelatihan karakter yang kamu dulu gunakan. Beli di mana ya? Berapa? Atau kamu masih punya dan bisa ku copy?"
Seorang teman mengirimi saya SMS ini beberapa waktu yang lalu. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat mengajar character building (CB) di SD di pulau Kalimantan. Kebetulan waktu berangkat ke sana, saya diberi hadiah seperangkat modul pelajaran karakter. Ada beberapa tema besar, seperti attentiveness, obedience, dan sebagainya.
Tetapi sejujurnya, sebenarnya, modul pendidikan karakter yang paling mantap adalah guru sendiri. Mengapa?
Karena karakter sebenarnya tidak diajarkan oleh modul, tetapi dibiasakan oleh guru/orang tua.
Kelas saya, misalnya adalah contoh. Anak-anak saya di kelas, punya kecenderungan suka bercanda, bahkan tak segan mencetuskan pikiran mereka, karena, saya juga begitu. Saya tidak melarang mereka bersuara/ menyampaikan pendapat mereka. Namun saat saya menerangkan/menjelaskan pelajaran, jangan sampai mereka mengobrol. Mereka sudah tahu kapan perlu memusatkan perhatian, kapan bisa berdiskusi.
Role yang saya berikan jelas.
Kelas 1-2 SD, siswa perlu role yang jelas. Prosedur dan aturan. Prosedur, kadang bisa dipermudah jika memang sangat penting. Misal, anak bisa ke toilet setelah 35 menit waktu recess. Jadi, setelah recess 10 menit, kalau izin ke toilet saya tanya, prosedurnya bagaimana? Kenapa tidak ke toilet saat recess? Kalau ke toilet berdua atau bertiga, apalagi. Prosedurnya ke toilet ya bergiliran. Mau B.A.K atau mau mengobrol? Ke toilet adalah alasan paling mudah keluar kelas jika bosan dan ingin ngobrol. JAdi, saya tegas tentang ini. Tetapi ini prosedur. Pelanggaran terhadap prosedur, bisa saja saya lakukan, jika mendesak. Sekarang saya melihat anak sudah ingin B.A.K, saya suruh menunggu lagi, kalau ngompol bagaimana? Benar sih sudah kelas 1-2, tetapi kan setiap anak berbeda. Jadi ada waktunya saya izinkan beberapa anak keluar sekaligus, dengan persyaratan waktu. 2 menit, misalnya.
Prosedur yang jelas, membuat anak tahu harus bagaimana.
Aturan berbeda lagi. Untuk aturan saya tidak memberlakukan fleksibel. Karena aturan ini berfungsi sebagai tali pengaman anak-anak. Misal, di koridor harus berjalan. Ini demi keamanan. Kalau mereka lari, menabrak teman, kepala bocor karena kecelakaan ini kan masalah besar toh? Atau terpeleset dan jatuh, itu juga masalah kan? Jadi, aturan dibuat demi keamanan mereka. Pelanggaran terhadap aturan mempunyai sanksi. Misalnya, untuk pertama mereka akan dipanggil dan dinasihati, kedua kali, dipanggil, disuruh kemmbali dari arah datang dan berjalan, lalu dinasehati lagi, dan diberi peringatan, "ini sudah 2 kali ms. lihat kamu lari, tiga kali, sanksinya lebih berat lho". Peringatan ini biasanya cukup membuat jerih/takut anak kelas 1-2 SD. Bandel/ menantang? Ketiga kali, suruh lari keliling lapangan 3 kali, lihat apakah masih mengulangi, atau tidak lagi mengulangi. Catatan saya, sanksi sebaiknya disesuaikan dan dipertimbangkan baik-baik. Seddapat mungkin sanksi fisik tidak disarankan. Biasanya juga anak kelas 1-2 masih takut pada gurunya. Takut sayang maksud saya. Saya kadang cuma bilang, "kalau kamu luka, kan miss sedih. Lagian kan kamu juga sakit, jangan lari lagi ya, ini sudah 2 kali lho miss kasih tahu,"
Anak-anak takut membuat sedih orang dewasa yang mereka kasihi.
Di sinilah pentingnya relasi.
Anak-anak meyakini, kita mengasihi mereka sehingga mereka segan membuat kita sedih atau marah.
Bagaimana dengan di kelas? atau bagi orang tua di rumah?
Anak saya selalu bertengkar dengan saudaranya.
Pertengkaran anak dengan saudara bisa jadi menunjukkan, adanya perbedaan perlakuan orang tua pada anak. KAlau anak diperlakukan sama, maka mudah bagi orang tua menegaskan hal ini.
Anak saya kalau main ngga mau membereskan. Dibiasakan tidak?
Anak saya sulit disuruh mandi. Sulit itu seperti apa? Sulit disuruh mandi, karena ia tidak tahu pentingnya mandi, karena ia menunda nunda, karena? Ini harus jelas. Bisa jadi, sulit mandi karena menunda-nunda, mengatasinya berbeda dengan sulit mandi karena tidak tahu pentingnya mandi.
Anak saya malas sembahyang/ saat teduh. Masalahnya, kita sendiri sembahyang/ saat teduh ngga?
Chaos nya rumah, bisa jadi, karena kita sendiri tidak membuat prosedur yang dibiasakan, dan aturan yang dijelaskan sehingga anak memahami. Bisa jadi juga, kitanya sebagai orang dewasa juga chaos.
Di kelas, kenapa chaos?
Sama saja. Kita tidak punya prosedur yang dibiasakan dan aturan yang dipahami.
Mendengarkan misalnya. Anak sekarang merasa mendengarkan itu biasa saja sambil baca buku, atau sambil main pensil. Orang tuanya juga kalau mendengarkan tak jarang sambil bergadget ria? Pada masa saya, mendengarkan artinya, duduk tegak, mata melihat pada yang berbicara, dan tangan terlipat rapi di meja. KAlau mendengarkan seperti ini yang diinginkan, jangan segan menjelaskan aturan ini pada anak. Saya menggunakan kalimat ini, " eyes on me" -- "close hands" -- "sit straight" -- Jadi anak tahu itu yang saya harapkan setiap saya katakan, "Pay attention,please."
Di sisi lain, nantinya akan saya bagikan kenapa guru mempunyai kelas chaos saat jam mengajarnya, sementara pada jam pelajaran lain sepertinya kelas tersebut ademmmmm.... Ini dulu yaaaa, mau lanjut kerja dulu.
Salam edukasi,

Maria Margaretha

Tips Hidup Maksimal

Mendengar suara Tuhan adalah kunci hidup orang percaya menjadi maksimal. Sayangnya seringkali, kita merasa Tuhan tidak berbicara pada kita. ...